Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agama. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 05 Desember 2009

Kisah Baut Kecil

Bacaan: Filipi 2:1-11

Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; - Filipi 2:3


Sebuah baut kecil bersama ribuan baut seukurannya dipasang untuk menahan lempengan-lempengan baja di lambung sebuah kapal besar. Saat melintasi samudera Hindia yang ganas, baut kecil itu terancam lepas. Hal itu membuat ribuan baut lain terancam lepas pula. Baut-baut kecil lain berteriak menguatkan, "Awas! Berpeganglah erat-erat! Jika kamu lepas kami juga akan lepas!" Teriakan itu didengar oleh lempengan-lempengan baja yang membuat mereka menyerukan hal yang sama. Bahkan seluruh bagian kapal turut memberi dorongan semangat pada satu baut kecil itu untuk bertahan. Mereka mengingatkan bahwa baut kecil itu sangat penting bagi keselamatan kapal. Jika ia menyerah dan melepaskan pegangannya, seluruh isi kapal akan tenggelam. Dukungan itu membuat baut kecil kembali menemukan arti penting dirinya di antara komponen kapal lainnya. Dengan sekuat tenaga, ia pun berusaha tetap bertahan demi keselamatan seisi kapal.

Sayang, dunia kerja seringkali berkebalikan dengan ilustrasi di atas. Kita malah cenderung girang melihat rekan sekerja "jatuh", bahkan kita akan merasa bangga apabila kita sendiri yang membuat rekan kerja gagal dalam tanggung jawabnya. Jika itu dibiarkan, artinya perpecahan sedang dimulai dan tanpa sadar kita menggali lubang kubur sendiri. Apa yang disebut gaya hidup seorang Kristen seakan tidak berlaku di tempat kerja. Padahal setiap tindakan yang kita lakukan akan selalu disorot oleh Sang Atasan.

Bagaimana sikap kita dengan rekan kerja? Mungkin saat rekan kerja menghadapi masalah, kita menganggap itu risiko yang harus ia hadapi sendiri. Tapi sebagai tim, kegagalan satu orang akan selalu membawa dampak pada keseluruhan. Jadi mengapa kita harus saling menjatuhkan? Bukankah hasilnya tentu jauh lebih baik jika kita saling mendukung dan bekerjasama menghadapi persoalan? Kristus mengajarkan bahwa kita adalah satu tubuh. Jika satu anggota mengalami masalah, yang lainnya harus mendorong dan menguatkannya. Jangan sampai masalah yang dialami rekan kerja malah membuat kita senang. Tapi baiklah kita berseru, "Berpeganglah erat-erat! Tanpa kamu, kami akan tenggelam!"

Kegagalan atau kesuksesan rekan sekerja akan selalu mempengaruhi diri kita juga

Penyembahan yang Aktif

Nats : Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian (Mazmur 100:4)
Bacaan : Mazmur 100

Di dalam bukunya Folk Psalms of Faith, Pendeta Ray Stedman berkata bahwa ia berharap semua orang yang datang ke gereja dapat berdiri di atas mimbar pada hari Minggu pagi dan memerhatikan wajah para jemaat selama khotbah berlangsung.

Walaupun sebagian besar orang tampaknya memerhatikan sang pendeta, banyak pula jemaat yang pikirannya ada di tempat lain. Stedman menulis, "Tentunya menarik untuk mengetahui, ke mana saja pikiran orang-orang mengembara selama kebaktian!"

Untuk memperoleh manfaat terbesar dari kebaktian di gereja, kita harus mempersiapkan hati dan menjadi peserta yang aktif. Kita harus terlibat dengan sungguh-sungguh dalam menyanyikan pujian, berdoa tanpa bersuara saat pendeta memimpin doa, dan menyembah dengan sepenuh hati saat paduan suara bernyanyi.

Pada akhirnya, kita perlu mendisiplinkan diri untuk mendengarkan pengajaran firman Allah dengan sungguh-sungguh dan dengan hati yang terbuka. Kita harus mengembangkan rasa lapar akan kebenaran yang menenangkan jiwa kita, mengilhamkan penyembahan, membangkitkan pujian kepada Allah, dan menggerakkan kita untuk melayani Dia.

Kita dengan mudah menyalahkan pendeta apabila kita meninggalkan kebaktian dengan perasaan hampa dan patah semangat. Namun pendeta hanyalah salah satu peserta; kita pun harus melakukan tugas kita. Mereka yang memperoleh berkat paling banyak dari penyembahan adalah mereka yang memberikan peranan paling banyak --Richard De Haan

Selasa, 01 Desember 2009

LIMA ROTI & DUA IKAN

Tahukah Anda bahwa zaman ini adalah zaman kering dan gersang seperti padang pasir? Kenapa zaman padang pasir? Karena kebanyakan orang berada dalam keadaan kelaparan - mereka hidup tanpa makanan rohani. Masalah di zaman ini adalah, "Di mana kita dapat membeli roti supaya orang banyak dapat makan?" (Yoh. 6.5)

Saat Yesus mengucapkan kata-kata itu, Ia tahu apa yang akan Dia lakukan tetapi Dia hanya mau menguji Filipus. Apa yang Filipus katakan? "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja." Tetapi Andreas berkata, "Di sini terdapat seorang anak yang mempunyai 5 roti jelai dan dua ikan; tetapi apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?"

Apakah Anda mempunyai roti dan ikan di tanganmu? Ya, tentu saja. Kita mempunyainya. Di mana? Ada berapa jari di tangan Anda? Ada berapa jari kaki di kaki Anda? Lima di setiap tangan dan kaki. Bagaimana dengan indra Anda? Bukankah semua itu adalah lima roti itu? Sekarang, berapa tangan Anda? Dua! Bagaimana dengan kaki? Juga dua! Begitu juga dengan telinga dan mata Anda. Bukankah semuanya ini merupakan lima roti dan dua ikan Anda?

Ketika para murid meminta roti dan ikan kepada anak kecil itu, ia bisa saja mempunyai empat respon yang berbeda:

Pertama, ia dapat berkata, "Aku tidak mau memberikan kepadamu. Aku lapar, aku mau memakannya sendiri!" Memang banyak orang yang mempunyai sikap yang demikian. Mereka memakan sendiri lima roti dan dua ikan mereka. Namun setelah memakannya mereka tidak dikenyangkan.

Kedua, anak kecil itu bisa saja berkata, "Aku tidak mau memberikan kepadamu! Saudara dan teman-temanku semuanya ada di sini. Mereka mau makan bersamaku." Sekarang ini banyak juga orang yang bersikap demikian. Tetapi apakah mereka akan dipuaskan? Tidak juga karena makanan itu belum diubah oleh Tuhan.

Ketiga, anak kecil itu bisa saja memanfaatkan situasi dengan berteriak, "Siapa yang mau memakan roti-roti dan ikan-ikan ini? Aku akan menjualnya kepada yang mau membayar tertinggi." Memang di hari ini terdapat banyak orang yang demikian.

Orang yang merasakan dirinya pintar karena pernah sekolah di luar negeri dan karena itu memasang harga tinggi. Saat diminta untuk pelayanan di gereja, mereka akan berkata, "Jika aku dibayar gaji sekian per tahun, aku akan melayani di gereja Anda. Jika tidak, aku tidak akan mau!" Sangat menyedihkan, kita telah mengkomersialisasikan lima roti dan dua ikan kita.

Keempat, anak kecil itu bisa saja berkata, "Roti dan ikan-ku tidak mungkin dapat memberi makan 5000 orang. Setelah aku memakannya, aku akan membuang sisa-sisanya." Memang ada orang yang seperti itu. Mereka menyia-yiakan roti dan ikan yang telah Tuhan anugerahkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Bukankah ini hal yang sangat menyedihkan?

Tetapi anak kecil itu tidak melakukan semua itu. Melainkan setelah Yesus memintanya, anak kecil itu langsung:

  1. menyerahkan ke tangan Yesus
  2. Yesus memberkatinya
  3. Yesus memecah-mecahnya
  4. Yesus memberikan kepada para murid-Nya
  5. Para murid membagi-bagikannya kepada orang banyak.

Demikian juga, kita adalah roti-roti itu, marilah kita menempatkan diri kita ke dalam tangan Yesus. Jika Anda tidak berada di dalam tangan Yesus, maka Ia tidak akan dapat memberkati kita. Ia juga tidak dapat melindungi kita.

Yesus memecah-mecahkan roti itu, demikian juga manusia lama Anda harus dihancurkan agar Anda dapat menerima kuasa dan kekuatan. Di saat Tuhan mengubah Anda, Anda akan dapat memberi makan kepada banyak orang.

Setelah Anda diubahkan, sebagaimana roti itu diubah, Anda menjadi saluran berkat kepada banyak orang. Akhirnya semua orang dikenyangkan dan bahkan ada sisa yang berlimpahan. Jadi jangan khawatir, saat Anda memberikan diri kepada Tuhan, walaupun Anda sibuk melayani dan memberi tetapi akan tersisa sukacita yang berkelimpahan bagi Anda, sebagaimana setelah memberikan 5000 orang, masih ada 12 bakul sisa makanan yang dibawa pulang para murid.

Jadi, marilah, berikanlah segalanya bagi Tuhan!

(Sumber: Dirangkum dan diterjemahkan dari khotbah John Sung, On Dedication)

Tersenyumlah...

By stefy falentino - Posted on November 30th, 2009

Waktunya Music Class...

Gw membawa anak-anak ke ruang Music dan menemani mereka disana. Gw memperhatikan mereka sedang dilatih sama Guru Musik... Ga akan mungkin mereka dilatih ama gw. Entah jadi apa mereka nanti kalo gw ajarin Musik... Bisa rusak satu generasi bangsa...

Tugas gw adalah memastikan mereka belajar dengan tertib. Mata mereka begitu senang bersama-sama memainkan Pianika. Pandangan mereka ga lepas dari aba-aba Guru Musik di depan. Walaupun gua termasuk ga peka nada, tapi telinga gw ini masih bisa mendengar kalau musik yang mereka mainkan masih berantakan.

Ada yang niup pianikanya sekuat tenaga.. sampe mukanya merah. Tapi ga bunyi2 tuh Pianika... Ditiup lagi ampe pipinya melar... Tetep tuh pianika ga bergeming... Setelah gw cek...Ternyata selangnya bolong. Tugas gw lah yang memperbaiki (sambil ngetawain tuh anak).

Ada yang mencet pianika bukan dengan jari tapi pake satu kepalan... Udah kayak maen buaya ngumpet di TimeZone... GUBRAK! GUBRAK! Tugas gw juga yang menegur... Memanggil namanya dengan nada tinggi sambil menunjukkan mata berapi-api... Dengan cepat dia langsung memainkan pianikanya dengan jari.

Setelah semua anak-anak memainkan pianika dengan tertib.. Tugas gw selesai... Gw kembali duduk mengawasi dari jauh. Tinggal tugas Guru Musiknya yang mengajari mereka tentang Musik, tuts mana yang harus mereka tekan, tentang nada, ketukan dan lain sebagainya.

Ditengah-tengah latihan ada satu anak tiba-tiba yang menunduk diam. Gw tidak memperhatikan sampai teman disampingnya bertanya "Are you crying?". Semua perhatian gw dari jauh langsung tertuju ke anak itu. Anak itu menjawab temannya dengan menggeleng. Tapi gw tidak melepas perhatian gw, walau gw belum melihat matanya berair.

Dan akhirnya gw melihat wajahnya basah dengan air mata. Tidak ada isakan. Tidak ada erangan. Tidak ada teriakan. Hanya air mata yang membasahi wajah yang sedih. Tidak ada yang tau dia menangis. Guru musiknya pun tidak tahu. Hanya gw dan teman disampingnya yang tahu.

Inilah panggilan gw. 

Gw langsung memanggil namanya. Dia menoleh. Gw menyuruh dia menghampiri gw. Dia berjalan dengan wajah basah. Dan menumpahkan airmatanya di hadapan gw. Pengen banget melucu dengan ngomong "Diem ga! Kalo ga diem sekarang, Mister Stefy bakal lempar kamu dari jendela."
Tapi gw tahu bukan saat yang tepat.

Gw menatap matanya lembut dan bertanya "What Happen?" Jari-jari gw mengusap airmatanya.

Dia menjawab dengan terisak "I can not. I can not play the song."

Rasa tertuduh. Rasa mengasihani diri sendiri. Gw seperti akrab dengan perasaan-perasaan tersebut.

Gw langsung berkata. "No! You CAn. You are a smart boy."

Karena tangisnya mulai menjadi, dia terbatuk-batuk. Gw mengelus punggungnya dan mengajaknya ke ruang Staff untuk minum.

Tangan kecilnya berada di telapak tangan gw, gw menuntunnya menuju ke ruang staff, gw mengambil gelas dan menuang air putih. Dia lalu meminumnya. SUdah agak tenang walau matanya masih terus berair.

Gw menatap wajahnya, mencoba menghiburnya. Dia menatap gw juga pengen mendengar perkataan "Udah ga usah kuatir, entar Mister Stefy Ajarin." Tapi dia tidak akan mendengar itu, kecuali gw begitu tega menjadikan penjahat lagu.

Tanpa gw sadari, kata-kata meluncur dari mulut gw. "With Jesus inside you... You can do anything." 

Dia mengangguk paham dan mulai tenang.

Gw tersenyum "Give me a sweet smile." kata gw.

Dan dia tersenyum walau dengan terpaksa. 

Tidak bisa memainkan pianika bagi anak murid gw adalah masalah besar. Sedangkan bagi gw itu sama sekali bukan masalah. Pengen banget gw bilang, Musik itu ga penting, sini Mister Stefy ajarin desain dan Fesbukan. 

Saaammaa juga dengan badai di Danau Galilea bagi ke 12 murid itu adalah masalah hidup dan mati, tapi itu bukan masalah, Danau Galilea yang maha luas itu di mata Tuhan cuma genangan air.

Merasa bodoh dalam hidup? Merasa selalu gagal dalam hari-hari elu? Merasa kalah dengan hawa nafsu dan emosi?

Berhentilah menangis. Tersenyumlah.

Tersenyum bukan karena keadaan kita membuat kita tersenyum. Bukan tersenyum karena semua sedang baik-baik saja. Tersenyumlah untuk membuat keadaan jadi baik.

Kekuatiran elu tidak akan pernah berhenti menerjang elu, bagai ombak besar yang lapar akan kejatuhan elu. Dia tidak akan berhenti menyerang walau elu udah babak belur.

Tapi ketahuilah antara engkau dan ombak maha besar itu ada BATU karang yang teguh. Ombak tidak akan bisa menyentuh Elu. Ga akan.

Ditengah Daud dan Goliat ada kuasa Allah yang berperang bagi Daud.

Diantara Elu dan Musuh Raksasamu ada Allah, bukan sebagai wasit tapi sebagai Pribadi yang berdiri membela engkau.

With Jesus... You Can do Anything..

Tersenyumlah, Engkau sedang tergabung dalam TIm Terbaik di Dunia, Bapa, Yesus, Roh Kudus dan ELO. Pandang baik-baik Dia yang berdiri buat elu. Apakah Dia tidak terlihat sehingga kita memusingkan masalah kita?
Masalah besar kita bagaikan perkara ujian anak TK bagi DIa. Raksasa Musuh kita bagaikan seekor anak semut di hadapanNya.

Apalagi yang kita takuti? Apalagi yang kita tangisi?

Tersenyumlah....^.^

Dan....Bagaimana dengan anak murid gw tadi?

Setelah pelajaran musik selesai dan anak-anak kembali ke kelas. Gw memutar Film Kungfu Panda untuk mereka tonton. Anak yang tadi menangis sekarang ikut tertawa bersama teman-temannya, dia lupa dengan masalah ketidakmampuannya dengan Pianika.